Kegiatan

Narasi Kebajikan Harus Terus “Dibranding”

Analisadaily.com, Medan – Meski pandemi Covid-19 telah menambah beban baru bagi perempuan, namun kegiatan gotong royong, praktek-praktek kebajikan yang meneguhkan bahwa Pancasila masih hidup dimasyarakat, justru banyak diinisiasi perempuan selama menghadapi pandemi.

“Kegiatan gotong royong seperti berbagi masker untuk mengurangi penularan virus corona, berbagi nasi bungkus untuk ojol, juga inisiatif cepat untuk melakukan penyemprotan disinfektan, justru banyak dipelopori ketua RT yang dijabat perempuan,” ujar Ketua Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), Nia Sjarifudin dalam webiner Perempuan Merespon Pandemi Covid-19, yang diadakan Aliansi Sumut Bersatu (ASB), Medan, Rabu (10/3).

Acara yang diadakan dalam memeringati hari Perempuan Internasional itu juga menampilkan Komisioner Komnas Perempuan, Maria Ulfah Anshor dan Dosen Antropologi FISIP USU Medan, Fikarwin Suzca, sebagai narasumber. Webiner diikuti 35 peserta, diantaranya Veryanto Sitohang, Komisioner Komnas Perempuan dan akademisi Unimed, Rosramadhana Nasution. Acara dibuka Direktur Eksekutif ASB, Ferry Wira Padang.

Ragam Dampak Pandemi bagi Perempuan

Menurut Nia, masalah utama yang dihadapi perempuan selama Pandemi Covid-19 tetap berbasis pada ketimpangan gender. Wujudnya memang makin bervariasi. Saat penghasilan ekonomi rumah tangga merosot. Bahkan berdasar penelitian Jurnal Perempuan mencapai 41%, perempuan dipaksa untuk berpikir keras agar kebutuhan rumah tangga tetap tercukupkan. Menu tak boleh berkurang, di sisi lain pengeluaran justru makin bertambah karena ada kebutuhan baru seperti membeli masker.

Proses pembelajaran jarak jauh atau pembelajarsn online juga membuat perempuan harus menjadi “guru” dadakan bagi anaknya. Perempuan, seperti juga laki-laki, harus menaati pembatasan sosial, namun perempuan dituntut harus berada di ruang publik untuk berbelanja ke pasar. Hal ini menyebabkan perempuan adalah pihak paling rawan untuk tertular virus SARS Cov-2.

“Belum lagi jika ada anggota keluarga sakit, maka perempuan juga cenderung menjadi pihak yang merawat,” tambahnya.

Sementara Maria Ulfah Anshor dari Komnas Perempuan menyoroti kecenderungan meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan di ranah domestik. Mengutip hasil survey Komnas Perempuan tahun 2020, ia menyebutkan bahwa kasus kekerasan di ranah privat menduduki peringkat terbanyak, yakni 784 kasus (67,3%).

“Dan 60% merupakan kasus kekerasan terhadap isteri dan 28% terhadap anak perempuan,” katanya. Bentuk kekerasan terhadap anak perempuan 51% adalah kasus pencabulan/inces/persetubuhan dan 24% kasus penganiayaan. Sisanya 25% dalam bentuk seperti perdagangan manusia, penculikan dan penelantaran.

Maria Ulfah juga mengungkapkan maraknya kekerasan terhadap perempuan berbasis online. Dari 129 kasus, sebanyak 71% berupa pengancaman dan 23% pelecehan seksual.

“Rata-rata kasus kekerasan seksual berbasis online berupa penyebaran foto dan video yang mengandung asusila, penyebaran foto tanpa busana, pemaksaan hubungan seks via videocall,” katanya.

Menyempurnakan Peralihan ke Masyarakat Industri 4.0

Sementara Fikarwin Suzca, menyebut dampak pandemi justru paling dirasakan kalangan perempuan ekonomi bawah. Disrupsi sosial membuat mereka “terkurung” dalam ruangan sempit di rumah, fasilitas hiburan dan makanan yang minim, ditambah keterbatasan alat prokes.

Merosotnya penghasilan ekonomi akibat PHK atau omset jualan menurun, juga kerap memicu ketegangan sosial dalam rumah. Ujungnya perempuan dan anak perempuan kerap jadi korban kekerasan fisik dan non fisok.

Pandemi Covid-19 menurut Fikarwin juga telah ikut menyempurnakan peralihan masyarakat untuk beradaptasi dengan tatanan sosial baru sesuai kaidah revolusi industri 4.0. Berbagai aktivitas yang bersifat profan maupun duniawi, kini sudah banyak dilakukan masyarakat secara daring, memanfaatkan teknologi komunikasi berbasis internet. Dampak ikutannya, hal tersebut telah membuka peluang perubahan terhadap tatanan patriarki sehingga menjadi lebih egaliter.

“Internet, gadget membuka peluang perempuan membuat bisnis di rumah dan dikendalikan dari rumah,” ujar Fikarwan. Ia memberi contoh munculnya perempuan-perempuan pebisnis yang sukses berdagang secara online.

Ketiga narasumber sepakat bahwa pandemi Covid-19 telah menggerus berbagai bidang kehidupan masyarakat. Namun dibalik semua itu, ada juga hikmah lain yang tak kalah penting dalam konteks kehidupan kebangsaan, yakni munculnya habitus-habitus Pancasila. Berbagai kelompok perempuan melakukan kerja-kerja gotong, membantu golongan masyarakat yang terdampak paling berat akibat pandemi. Dan mereka yang dibantu, tak dikaitkan dengan perbedaan latar belakang etnis atau agama mereka.

Karena itu ketiganya berharap agar narasi-narasi kegiatan kemanusian itu harus makin sering “dibranding” media karena sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang sangat menghargai keberagaman.

Penulis J. Anto

Sumber : https://analisadaily.com/berita/baca/2021/03/11/1016164/narasi-kebajikan-harus-terus-dibranding/

 

Facebook Comments
Aliansi Sumut Bersatu

Aliansi Sumut Bersatu (ASB) adalah organisasi masyarakat sipil atau LSM yang sejak tahun 2006 melakukan upaya-upaya penguatan untuk mendorong penghormatan dan pengakuan terhadap keberagaman melalui pendidikan kritis, dialog, advokasi dan penelitian