Berita

FGD Virtual ASB: FKUB dan Tokoh Agama Perkuat Kehidupan Beragama dan Berkeyakinan di Medan

Kehidupan masyarakat di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan yang plural dijadikan sebagai simbol keberagaman di Indonesia. Simbol tersebut menjadi warisan kekayaan yang seharusnya di rawat dengan baik, menjadikan perbedaan sebagai sebuah anugrah untuk saling menghargai, menerima dan menyayangi.

Namun keindahan akan perbedaan tersebut dari tahun ke tahun semakin memudar. Hampir setiap tahun terjadi peristiwa-peristiwa yang melemahkan kehidupan beragama dan berkeyakinan.

Tahun 2019 misalnya, di Kota Medan terjadi penolakan pelaksanaan ibadah dan pelarangan rumah sebagai tempat ibadah di Martubung. Awal tahun 2020 terjadi penolakan rumah/balai pengobatan. Dan masih banyak kasus lainnya.

Hal inilah yang mengemuka dalam  Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Aliansi Sumut Bersatu  (ASB) secara virtual melalui zoom meeting, Rabu (1/7/2020). Tema FGD ini adalah “Peran FKUB dan Tokoh Agama Memperkuat Kehidupan Beragama dan Berkeyakinan di Kota Medan.”

Direktur ASB, Ferry Wira dalam keterangan persnya yang diterima Tri bun-Medan.com, Rabu (1/7/2020) mengatakan, berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dengan Menteri Agama masing-masing No. 8 Tahun 2006 dan Nomor 9 Tahun 2006 dibentuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dengan tujuan menciptakan kerukunan masyarakat, agar masyarakat merasa tenang terutama dalam beribadah.

FKUB merupakan lembaga keagamaan yang menjadi mitra Kementerian Agama, lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Perwakilan Umat Buddha (WALUBI) dan Konghucu. Melalui keenam lembaga keagamaan ini, Kementerian Agama menggali pemikiran para pemuka agama untuk merumuskan kebijakan mengenai kehidupan beragama.

“Melalui diskusi ini harapannya FKUB dan tokoh agama kedepan semakin strategis memaksimalkan fungsi dan peran dalam menciptakan kerukunan beragama masyarakat,” kata Ferry.

Hadir sebagai narasumber FGD adalah Asfinawati selaku Ketua YLBHI Jakarta  dengan fasilitator Komisioner Komnas Perempuan, Veryanto Sitohang. Sebanyak 30 orang perwakilan FKUB Kota Medan, tokoh agama, akademisi dan perwakilan instansi pemerintah hadir dalam FGB ini.  

Asfinawati dalam paparannya menjelaskan kebebasan beragama, berkeyakinan dan kerukunan telah ada sejak lama  dan diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 8 dan 9 tahun 2006.

Bagian h menyebutkan “bahwa kerukunan umat beragama merupakan bagian penting dari kerukunan nasional”. Sedangkan Pasal 1 angka 1 menyebutkan “Kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Kemudian Pasal 1 angka 2 menyebutkan bahwa:  Pemeliharaan kerukunan umat beragama adalah upaya bersama umat beragama dan Pemerintah di bidang pelayanan, pengaturan, dan pemberdayaan umat beragama.

”Artinya kebebasan beragama, berkeyakinan dan kerukunan sudah diatur dan dijamin oleh pemerintah,” kata Asfinawati.

Ferry Wira menambahkan, lewat FGD ini, out put yang diharapkan antara lain FKUB dan tokoh agama di Kota Medan memiliki pemahaman yang lebih baik terkait defenisi kerukunan dan munculnya ide terkait hal-hal apa yang harus dilakukan di Kota Medan untuk menduduki prestasi terbaik dalam kerukunan umat beragama.

”Selain itu FKUB dan Tokoh Agama memiliki pemahaman yang baik terkait peran dan tugas tokoh agama dalam mewujudkan perdamaian dalam keberagaman,” katanya.

Sumber Tribunnews.com

Facebook Comments
Komentar Dinonaktifkan pada FGD Virtual ASB: FKUB dan Tokoh Agama Perkuat Kehidupan Beragama dan Berkeyakinan di Medan
Aliansi Sumut Bersatu

Aliansi Sumut Bersatu (ASB) adalah organisasi masyarakat sipil atau LSM yang sejak tahun 2006 melakukan upaya-upaya penguatan untuk mendorong penghormatan dan pengakuan terhadap keberagaman melalui pendidikan kritis, dialog, advokasi dan penelitian